<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>IPBana</title>
	<atom:link href="http://www.ipbana.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ipbana.com</link>
	<description>Dari IPB, untuk Indonesia dan Dunia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Feb 2012 07:38:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>SUMBER EMISI RUMAH KACA DARI PERTANIAN</title>
		<link>http://www.ipbana.com/8/sumber-emisi-rumah-kaca-dari-pertanian.html</link>
		<comments>http://www.ipbana.com/8/sumber-emisi-rumah-kaca-dari-pertanian.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 07:37:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>buman</dc:creator>
				<category><![CDATA[IPB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ipbana.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan khususnya di bidang pertanian. Menurut National Academy of Science (2007) menunjukan bahwa pertanian di Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi hujan tahunan dan antar tahun. Sesuai dengan laporan &#8230; <a href="http://www.ipbana.com/8/sumber-emisi-rumah-kaca-dari-pertanian.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan khususnya di bidang pertanian. Menurut <em>National Academy of Science</em> (2007) menunjukan bahwa pertanian di Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi hujan tahunan dan antar tahun. Sesuai dengan laporan FAO (1996), kekeringan akibat kemarau panjang telah menyebabkan gagalnya produksi padi dalam skala yang sangat besar yaitu mencakup luasan 426.000 ha.</p>
<p>Persawahan dengan sistem irigasi, merupakan salah satu penyumbang gas rumah kaca, yakni gas metana (Rusbiantoro 2008). IPCC (2007) memperlihatkan bahwa emisi gas rumah kaca dari 1970 &#8211; 2004 mengalami peningkatan 20,3 % dan gas metana telah menyumbang 14,3 %, dimana sebesar 13,5% berasal dari pertanian (Joseph <em>et al.</em> 2011). Gas metana di area persawahan yang terbentuk disebabkan hasil dari kondisi tanah anaerobik atau genangan air. Sawah dengan sistem irigasi yang baik menyediakan lingkungan ideal untuk proses metanogenesis atau pembentukan metana (metanogen) (Rusbiantoro 2008). Hal ini tentu akan berdampak negatif terhadap salah satu plasma nutfah yang hidup di persawahan yakni tanaman padi, yang akhirnya akan mempengaruhi keberhasilan program pembangunan pangan (Astuti 2008).</p>
<p>Gas metana dihasilkan oleh bakteri <em>arkhaea metanogen</em> dan <em>Clostridium </em>yang hidup di perairan sawah<em>,</em> reaksi penambatan CO<sub>2</sub> pada <em>arkhaea metanogen</em> selain dipakai untuk sintesis asetat, juga dapat dipakai untuk sintesis metana (CH<sub>4</sub>). Metil-THMP yang dihasilkan selama proses penambatan CO<sub>2</sub>, mentransfer gugus metil ke CoMSH, sehingga menghasilkan metil KoM. Reaksi ini dikatalisis oleh metil transferase. Gugus KoM pada metil KoM digantikan proton (dari HTP-SH), sehingga menjadi metana (CH<sub>4</sub>). <em>Methanobrevibacter acidurans, Methanosarcina</em> dan <em>Mathanotrix</em> merupakan bakteri yang hidup berasosiasi dengan akar tanaman padi dan mampu menggunakan asetat sebagai sumber karbon yang akan menghasilkan metana dan gas CO<sub>2</sub>. Keseluruhan reaksinya adalah  :</p>
<p align="center">CH<sub>3</sub>COOH → CH<sub>4</sub> + CO<sub>2</sub></p>
<p>Sumbangan gas metana ini akan meningkatkan pemanasan global yang secara langsung akan mempengaruhi iklim dan curah hujan di daerah Sumatera yang tergolong lahan kering beriklim basah (Hidayat dan Mulyani 2002) yang berakibat pada bergesernya iklim menjadi lahan kering beriklim kering (Anonim 2007). Secara tidak langsung hal ini akan berdampak terhadap penghasilan petani karena menurunnya produksi gabah atau gagal panen karena kekurangan air. Untuk menanggulangi hal tersebut diperlukan varietas unggul tahan kering yang mampu hidup dilingkungan ekstrim.</p>
<p><strong>Sumber Pustaka</strong></p>
<p>Anonim. 2007. Pemanasan Global. [terhubung berkala] <a href="http://geo.ugm.ac.id/archives/28%20%288">http://geo.ugm.ac.id/archives/28 (8</a> Mei 2011).</p>
<p>FAO. 1996. The Sixth World Food Survey. (Food and Agriculture Organization of the United Natiaon, Rome.</p>
<p>Hidayat A, Mulyani A. 2002. Lahan kering unum pertanian.dalam teknologi pegnolahan lahan kering: Menuju pertanian produktif dan ramah lingkugan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.</p>
<p>Joseph B, Jini D, Ajisha SU. 2011. Fight global warming with genetikally altered trees (review). <em>Asian J Biotechnol</em> 1: 1-8.</p>
<p><em>National Academy of Science</em>. 2007. The Scientific Consensus on Climate Change: How Do We Know We’re Not Wrong?. Massachusetts. The MIT Press.</p>
<p>Rusbiantoro,D. 2008 . <em>Global Warming for Beginner</em>. Yogyakarta:O<sub>2.</sub></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ipbana.com/8/sumber-emisi-rumah-kaca-dari-pertanian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

